Latest Articles :

Label

Adsense

Latest Post

Pantai Ni’u, Jagung Bakar Dan Garoso

Selasa, 10 April 2012 | 0 komentar

Pantai Ni’u berada di sisi timur teluk Bima, tepatnya di jalan lintas Bima-Sumbawa sekitar 5 km dari terminal Dara Kota Bima. Obyek wisata ini cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal dengan memanfaatkan bangunan Gazebo-Gazebo yang dibangun Pemerintah Kota Bima di tepi pantai ini. Disamping menikmati indahnya panorama pantai, para pengunjung atau orang-orang yang sekedar melepas lelah dari perjalanan jauh dapat menikmati jagung bakar, makanan ringan, buah-buahn  dan buah Garoso yang dijual di sisi kiri dan kanan jalan lintas Bima-Sumbawa ini.


Antara bulan Pebruari hingga April buah Garoso melimpah di kabupaten dan Kota Bima. Pada musim-musim seperti ini para pedagang Garoso berjejer untuk menjual Garoso di sepanjang jalan dari Desa Panda hingga memasuki kota Bima. Di pasar-pasar Bima pun bermunculan pedagang Garoso.

Garoso adalah sejenis buah Srikaya termasuk pohon buah-buahan kecil yang tumbuh di tanah berbatu, kering, dan terkena cahaya matahari langsung. Tumbuhan yang asalnya dari Hindia Barat ini akan berbuah setelah berumur 3-5 tahun. Srikaya sering ditanam di pekarangan, dibudidayakan, atau tumbuh liar, dan bisa ditemukan sampai ketinggian 800 m dpi.

Perdu atau pohon kecil ini mempunyal tinggi 2-5 m, kulit pohon tipis berwarna keabu-abuan, getah kulitnya beracun. Daun bertangkai, kaku, ietaknya berseling. Helaian daun bentuk lonjong sampai jorong menyempit, ujung dan pangkai runcing, tepi rata, panjang 6-17 cm, lebar 2,5-7,5 cm, permukaan daun warnanya hijau, bagian bawah hijau kebiruan, sedikit berambut atau gundul. Bunga 2-4 kuntum (berhadapan), keluar dan ujung tangkai atau ketiak daun, warnanya hijau kuning. Buahnya buah semu, bentuk bola atau kerucut, permukaan berbenjol-benjol, warnanya hijau berserbuk putih, penampang 5-10 cm, jika masak, anak buah akan memisahkan diri satu dengan lainnya. Warnanya hijau kebiru-biruan. Daging buah berwarna putih, rasanya manis. Biji masak berwarna hitam mengkilap.

Garoso harus terus menjadi icon Bima. Untuk itu, upaya pelestarian, konservasi dan pengembangan Garoso perlu dilakukan. Areal tegalan dan tanaman Garoso di sepanjang pantai Ni’u hingga kecamatan Belo harus dipertahankan untuk menjaga eksistensi Garoso ini.

Pemerintah Kota Bima terus mengembangkan dan menata Pantai Ni’u ini untuk menjadi salah satu obyek wisata andalan di kota Bima dengan melakukan serangkaian upaya seperti pembersihan areal pantai, pengerukan, dan reklamasi pantai untuk pelayanan wisata. Disamping itu, fasilitas perahu nelayan juga diberikan bantuan untuk tujuan wisata bahari mengelilingi teluk Bima.
Continue Reading

Edelweis Di Puncak Tambora

| 0 komentar

Puncak Tambora yang dingin menawarkan sejuta pesona dan kekaguman atas keindahan ciptaan Sang Khalik. Berdiri di tebing Kaldera seluas 6 kilometer mata menyapu keindahan Satonda dan pulau Moyo serta Gunung Rinjani yang Kokoh mengawal Pulau Lombok. Dari arah timur, mata terpukau dengan birunya laut flores serta hamparan pulau dan daratan di semenanjung Sumbawa.


Tambora yang mendunia meletus pada tahun 1815, menurut catatan Rafles dalam Bukunya The History Of Java tinggi Tambora sebelum letusan mencapai sekitar lebih dari 4 ribu meter. Namun setelah letusan, tinggi Tambora mencapai 2820 meter di atas permukaan laut. gunung Tambora yang eksotik sesungguhnya menyimpan catatan penting tentang peradaban masa lampau yang unik serta klenik. Ditemukannya berbagai artevak, bekas rumah, padi, perhiasan, kerangka manusia dan hewan dalam beberapa tahun terakhir menyingkap tabir peradaban yang telah tertimbun pasir sedalam 6 sampai 13 meter.

Disamping kekayaan itu, di lereng dan puncak Tambora juga tumbuh banyak sekali bunga Edelweis. Tanaman langka ini menjadi salah satu koleksi terpenting gunung Tambora disamping tanaman lainnya seperti Molucas Dua Banga, Kalango, serta berbagai jenis flora lainnya. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya.
Edelweis atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.

Kekayaan yang dimiliki Tambora sudah selayaknya dijaga dan dirawat untuk kepentingan yang jauh lebih besar daripada sekedar ambisi dan keserakahan manusia mengeksplorasi alam dan sisa peninggalan Tambora. Dalam beberapa decade mamang hutan Tambora sudah banyak yang dijarah. Oleh karena itu dibutuhkan upaya sungguh-sungguh dari semua kalangan untuk mengamankan Tambora agar tetap eksotik dan terjaga dari generasi ke generasi. Termasuk Bunga Abadi Edelweis ini.

--
Continue Reading

Hilangnya Tradisi Wa’a Mama Dan Sarau

| 0 komentar

Dua tradisi tersebut kini sudah tidak dilakukan lagi dalam prosesi pernikahan adat masyarakat Bima-Dompu. Hal itu didasari perkembangan zaman yang menuntut aktifitas manusia yang lebih cepat dan praktis. Jika menengok ke masa lalu, prosesi ini merupakan salah satu rangkaian proses yang lebih mengeratkan tali silaturahmi antara komunitas masyarakat terutama keluarga calon mempelai pria dan wanita.


Pada masa lalu, guna meningkatkan hubungan baik antara keluarga, maka kedua keluarga terus meningkatkan kegiatan silaturahim. Kegiatan yang dilakukan oleh kedua keluarga tersebut dinamakan “Pita Nggahi” ( mengulang kata) dalam pengertian memepererat hubungan kekeluargaan antara kedua keluarga. Selama masa “ Sodi Angi”, pihak orang tua dan keluarga pemuda akan melakukan berbagai jenis upacara adat seperti Wa’a Mama (Pengantaran Sirih) dan Wa’a Sarau (Pengantaran Camping)

 Wa’a Mama (Mengantar Sirih)



Wa’a mama artinya mengantar atau membawa bahan untuk makan sirih (mama) seperti nahi ( sirih), u’a ( pinang), tambaku ( tembakau), tagambe dan afu mama ( kapur khusus untuk pemakan sirih). Dalam pelaksanaanya pihak orang tua pemuda bukan hanya mengantar bahan untuk makan sirih ( mama) tetapi juga membawa berbagai jenis makanan dan kue tradisional.

Upacara Wa’a mama dilaksanakan pada awal musim panen ( oru pako) dan  dilangsungkan pada malam bulan purnama. Dari pihak keluarga pemuda akan diwakili oleh ompu panati dan tokoh – tokoh adat bersama kaum ibu. Dari pihak keluarga gadis akan diwakili oleh Wa’i Panati didampingi keluarga gadis dan kaum ibu. Wa’i Panati adalah Tokoh Adat Perempuan yang dipandang mampu seperti Ompu Panati dalam hal berpantun dan bersyair atau yang dituakan dalam proses Wa’a Mama ini. Dalam proses ini juga terjadi saling berbalas pantun antara Ompu Panati dan Wa’i Panati.

Semua barang yang dibawa oleh keluarga pemuda akan dibagi – bagikan kepada Galara, Lebe dan keluarga serta kerabat. Ada juga yang dimakan oleh gadis bersama teman – teman ketika sedang memanen padi di sawah.

Tujuan utama dari upacara wa’a mama ialah :

Mempererat ikatan kekeluargaan antara keluarga.
Sebagai pemberitahuan kepada seluruh keluarga dan masyarakat, bahwa putra – putri mereka sudah resmi Sodi Angi ( bertunangan). Karena itu keduanya tidak boleh dipinang lagi.


 Wa’a Sarau (Pengantaran Camping)



Secara harfiah wa’a sarau artinya mengantar atau membawa sarau (Camping) yaitu sejenis topi tradisional Bima-Dompu yang dibuat dari anyaman bambu. Upacara wa’a sarau hampir sama dengan upacara wa’a mama. Dilaksanakan pada musim tanam( oru mura). Barang – barang yang diantar adalah sarau dan berbagai jenis kue tradisional dan umbi – umbian serta buah – buahan dari kebun pemuda.

Penggunaan barang – barang yang dibawa oleh keluarga pemuda sama  dengan penggunaan barang – barang yang dibawa pada upacara wa’a mama. Tujuanya pun sama yaitu untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dan sebagai pemberitahuan kepada seluruh keluarga dan masyarakat, tentang pertunangan putra – putri mereka.
Continue Reading

Upacara Hanta U’A PUA

| 0 komentar

Ua Pua dalam bahasa melayu disebut” Sirih Puan”  adalah satu rumpun tangkai bunga telur berwarna warni yang dimasukkan ke dalam satu wadah segi empat. Jumlah bunga telur tersebut berjumlah 99(Sembilan Puluh Sembilan) tangkai yang sesuai dengan Nama Asma’ull Husna. Kemudian di tengah-tengahnya ada sebuah Kitab Suci Alqur’an. U’a Pua ditempatkan di tengah-tengah sebuah Rumah Mahligai(Bima: Uma Lige) yang berbentuk segi empat berukuran  4×4 M2. Bentuk Uma Lige ini  terbuka dari ke empat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang gadis, dan penari lenggo melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh mayarakat sepanjang jalan.

 

Uma Lige tersebut diusung oleh 44 orang pria yang berbadan kekar sebagai simbol dari keberadaan 44 DARI MBOJO yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur Pemerintahan kesultanan Bima. Mereka melakukan start dari kampung melayu menuju Istana Bima untuk diterima oleh Sultan Bima dengan Amanah yang harus dikerjakan bersama yaitu memegang teguh ajaran Agama Islam.

Seiring dengan perjalanan waktu, lahir beragam persepsimasyarakat Mbojo (Bima)  mengenai arti / makna serta tujuan Ua Pua, yang pada masa kesultanan merupakan salah satu upacara “Rawi Na’e Ma Tolu Kali Samba’a” ( upacara adat besar yang dilaksanakan tiga kali setahun ) selain upacara “ Ndiha Aru Raja To’I ( perayaan Hari Raja Idul Fitri ) dan Ndiha Aru Raja Na’e ( perayaan Hari Raya Idul Adha ). Akibat dari munculnya Persepsi yang beragam, maka tidaklah mengherankan munculnya respon yang berbeda pula dari Masyarakat, terhadap pelestarian Upacara Ua Pua sebagai media Dakwah dan Syiar Islam.

Guna memahami subtansi Upacara Ua Pua secara benar dan utuh kita harus meluruskan “ejaan” (tata tulis) kata Ua Pua (sirih puan). Sebab dalam kenyataannya ejaan yang dipakai masih beragam, ada yang menulis dengan ejaan Ua Pua dan ada pula yang mempergunakan ejaan “U’A pua”. Menurut salah seorang Tokoh Adat Melayu ejaan yang benar adalah “UA PUA” bukan U’A PUA (Bapak Muhammad Ibrahim) tetapi dalam kenyataannya masih banyak anggota Masyarakat bahkan budayawan yang mempergunakan ejaan yang salah (U’A PuA). Akibatnya lahir konotasi yang keliru. Masyarakat menyangka bahwa Upacara Ua Pua  sama dengan “NE’E U’A” (panjat pinang) yaitu salah satu jennis olahraga yang dipopulerkan oleh pembesar Belanda pada jaman kolonial untuk dijadikan totonan dalam memperingati hari – hari besar kerajaan Belanda. Ditinjau dari subtansi olahraga “NE’E U’A” dapat merusak perkembangan jiwa anak karena olahraga tersebut  menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan tanpa mengindahkan nilai etika atau norma. Karena itu alangkah baiknya bila kita meninjau kembali keberadaan olahraga “NE’E U’A”, masih banyak olahraga tradisional  yang bernilai positif bagi perkembangan Rohani dan Jasmani anak – anak.

Continue Reading

Tembe Mbojo - Sarung Khas Daerah Bima

| 0 komentar

Tembe merupakan barang unggulan yang dihasilkan oleh para penenun. Selain untuk diperjualkan oleh masyarakat lokal, juga menjadi salah satu jenis barang yang laris dalam perdagangan Nusantara, terutama pada era Kesultanan sampai dengan Tahun 1960-an. Berdasarkan jenis dan fungsinya Tembe dapat dibagi sebagai berikut;


Tembe Songke (Sarung Songket)
Bahan baku TembeSongke  termasuk motif pada umumnya didatangkan dari luar daerah. Pada masa Kesultanan para pedagang Mbojo, membeli benang untuk Tembe Songke dari Malaka (Malaysia) dan Dana Bara (Singapura). Selain itu  mereka membeli berbagai jenis kain dan asesoris untuk bahan baju adat.

Pada umumnya “Dana” (warna dasar) Tembe Songke berwarna merah hati, coklat dan hitam dengan motif garis-garis kecil dipadukan dengan motif Bunga Samobo, Bunga Satako, Pado Waji dan Kakando, diperindah dengan hiasan benang emas dan perak.

Fungsi utama Tembe Songke adalah untuk dipakai oleh kaum wanita ketika mengikuti upacara adat dan upacara keagamaan. Idealnya Tembe Songke tidak boleh dipakai dalam kehidupan sehari-hari..

Tembe Kafa Na’e
Tembe Kafa Na’e (sarung dari benang besar) dalam pengertian, sarung yang ditenun dari benang asli dibuat oleh para penenun sendiri. Bukan benang berasal dari luar seperti Tembe Songke.

Berdasarkan motifnya, Tembe Kafa Na’e dapat dibagi dalam beberapa jenis :

Tembe Bali Mpida
Bermotif garis-garis lurus kecil, yang akan membentuk kotak-kotak segi empat ukuran kecil. Karena itu Tembe Kafa Na’e diberi nama “Tembe Bali Mpida” (bermotif garis kecil). Warna dasar (Dana), ada yang hitam, coklat dan putih. Khusus “Tembe Sambea Kai” (sarung untuk sholat), harus berwarna dasar putih (Dana Lanta).

Tembe Bali Lomba
Adalah Tembe Kafa Na’e yang motifnya berupa garis-garis lurus yang besar dan akan membentuk kotak-kotak yang besar pula. Dana (warna dasar) sama dengan warna dasar Tembe Bali Mpida.

Tembe Me’e (Sarung Hitam)
Tembe Me’e termasuk jenis Tembe Kafa Na’e yang warna dasarnya Me’e (Hitam) tanpa motif. Sesuai dengan daerah atau Desa asal, Tembe Me’e terdiri dari tiga macam:

Tembe Me’e Ntonggu, berasal dari Desa Ntonggu Kecamatan Palibelo.
Tembe Me’e Wera, berasal dari Desa Nunggi Tawali dan Desa lain di Kecamatan Wera.
Tembe Me’e Donggo, hasil tenunan kaum wanita Donggo Ipa di Kecamatan Donggo.
Warna me’e dibuat dari bahan lokal yaitu dari daun tumbuhan perdu yang oleh masyarakat disebut “Fu’u Dau” (Pohon Dau).

Jenis Tembe Kafa Na’e sudah langka, karena itu harganya mahal, terutama Tembe Me’e.

4.Tembe Nggoli

Tembe Nggoli mulai dikenal oleh masyarakat sekitar Tahun 1970-an. Sebenarnya proses pembuatan serta motif dan warna dasar sama dengan Tembe Kafa Na’e. Yang membedakannya adalah benang yang dipergunakan. Kalau Tembe Kafa Na’e ditenun dari benang asli Mbojo, sedangkan Tembe Nggoli ditenun dari benang buatan pabrik, berbentuk gulungan oleh masyarakat benang itu disebut “Kafa Nggoli” (Benang Nggoli). Tembe yang bahan bakunya dari Kafa Nggoli populer dengan nama “Tembe Nggoli”.

(Sumber : Ragam Motif Tenun Bima-Dompu, M. Hilir Ismail & Alan Malingi )
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. LA MBARI - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger